AS-Rusia Memanas, Biden Sebut Putin ‘Pembunuh’

Internasional, SAKATA.ID: Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Rusia semakin memanas. Rusia juga telah menarik pulang duta besarnya di Washington D.C., Anatoly Antonov.

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Joe Biden menyebut Presiden Vladimir Putin sebagai pembunuh.

Bacaan Lainnya

Kementerian Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, telah meminta Anatoly pulang ke Moskow. 

Dia pulang untuk konsultasi dan menganalisis apa yang harus dilakukan. Serta ke mana Rusia harus pergi. Yakni dalam konteks hubungan dengan AS.

Putin tengah berada dalam tekanan. Terutama terkait pemenjaraan aktivis yang vokal menentangnya, Alexei Navalny.

Navalny ditahan Pemerintah Rusia setibanya di Moskow pada Januari lalu. Ia pulang ke negaranya setelah melakukan perawatan dan pemulihan di Jerman usai diduga diracun dengan zat saraf Novichok.

Banyak pihak menduga, aktivis itu diracun oleh agen Rusia akibat kritiknya selama ini terhadap Putin.

Dalam wawancara bersama ABC, Biden ditanyai apakah menurutnya Putin adalah pembunuh. Biden pun menjawab “Ya, (saya menganggapnya pembunuh).” Seperti dikutip CNN.

Laporan intelejen AS melaporkan bahwa Putin telah ikut campur dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020.

Informasi itu dilansir AFP, menyatakan bahwa relasi Kremlin dan Gedung Putih kembali memanas karena adanya laporan itu.

Campur tangan Rusia di Pilpres dinilai sangat merugikan pencalonan Biden. Biden menyebut, Putin akan membayar konsekuensi atas campur tangan Rusia.

Di dalam informasi itu, Rusia mencampuri Pilpres AS dengan dengan melakukan operasi untuk merendahkan pencalonan Biden dan Partai Demokrat.

Dan Rusia mendukung mantan Presiden Trump. Merusak kepercayaan publik dalam proses pemilu. Serta memperburuk perpecahan sosial politik di AS.

Meskipun Rusia sudah menarik Duta Besarnya di Washington, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, perwakilan AS akan tetap di Moskow.

Kebijakan itu, dengan harapan tetap mempertahankan saluran komunikasi terbuka. Juga mengurangi risiko salah perhitungan antara kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *