Merespon Kebijakan Pemerintah dengan Persepsi yang Baik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Opini, SAKATA.ID: Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki tatanan ekonomi, sosial, kesehatan di masyarakat akibat Covid-19.

Begitu cepatnya penyebaran Covid-19 di Indonesia. Hingga membuat berbagai pihak terutama pemerintah kelabakan.

Bacaan Lainnya

Padahal, dulu mereka terkesan abai. Bahkan dibuat lelucon. Ya namanya juga pemerintah harap dimaklum.

Tetapi tulisan ini tak akan mengkritisi kebijakan Pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Justru mendukung kebijakan bekerja dan belajar dari rumah yang digulirkan Pemerintah sebagai upaya memutus mata rantai Covid-19.

Perlu digaribawahi, bahwa kita belum memasuki fase lockdown atau karantina yang sesuai dengan Undang-Undang Kekarantinaan. 

Tetapi masih dalam tahap Social Distancing. Yakni pembatasan interaksi sosial dengan banyak berdiam diri di rumah bernama PPKM Darurat.

Pro-Kontra tentu menjadi hal yang lumrah sebagai bukti empiris adanya keragaman berfikir masyarakat.

Namun, Pemerintah sebagai pemangku kebijakan tertinggi tak perlu takut dengan tekanan massa.

Setiap kebijakan lahir tentu bukan tanpa analisis dan pertimbangan yang matang, bukan? 

Kebijakan lahir dari berbagai sudut pandang para ahli. Bukan tiba-tiba muncul bak Wahyu Illahi.

Yang dikedepankan dalam kebijakan Pemerinrah tentu bukan kepentingan golongan, atau pribadi melainkan kemaslahatan bersama. 

Sisi Positif Kebijakan Pemerintah, PPKM Darurat, Bagi Pemuda

Sisi positif dari PPKM Darurat sebenarnya tak sedikit. Anak-anak muda yang tadinya jarang di rumah entah karena memang mencari jatidiri, terkendala kesibukan, atau sekedar ngopi bersama kawan setongkrongan pun bisa menghabiskan waktu lebih banyak di rumah.

Ini adalah momentum bagi mereka untuk lebih memahami karakter keluarganya dengan harapan lebih mempererat ikatan kekeluargaan.

Kapan terakhir anda bercerita mengenai masa kecil dengan ayah? Sudah lama bukan semenjak ibumu memberikan petuahnya? Atau tentang nenek, kakekmu yang terhanyut dalam cerita romantisme masalalu, Ah rasanya tak pernah lagi kau lihat kenakalan adik-adikmu atau keisengan kakakmu di rumah semenjak kau merasa “sudah besar”. Benar begitu? 

Sudah pernahkah kamu mengajari adikmu itu Alif-Ba-Ta? Atau bercerita tentang Kehebatan para Nabi?.

Dengan banyak waktu di rumah kamu bisa meningkatkan kualitas pribadimu dengan membaca buku kesukaanmu. Padahal pada hari biasanya, sebelum ada Pandemi, kamu selalu beralasan tak punya waktu. 

Atau bagi perempuan, kalian bisa bereksperimen dengan masakan kalian, sebagai upaya memantapkan diri dalam menjawab pertanyaan mertua, “Bisa masak nggak?”

Yang laki-laki, coba lihat betapa banyak pekerjaan rumah yang sebelumnya tak kamu ketahui sama sekali. Kamu fikir rumput depan rumahmu itu bisa memotong dirinya sendiri? Atau piring di dapur itu dapat membersihkan setelah kamu kotori? Dan, apakah kamu berfikir bahwa pakaianmu itu dengan sendirinya terlipat rapi dalam lemari?.

Bagi dirimu yang beralasan keluar rumah adalah bentuk pencarian jatidiri, coba anda manfaatkan tinggal di rumah selama berminggu-minggu dengan berkontemplasi, merenungi kehidupan pribadimu sendiri, siapa tau muncul solusi atas permasalahanmu selama ini.

Bukankah kamu selalu bilang “Aku butuh waktu sendiri”, setelah itu kamu dapatkan kenapa tak kamu gunakan? 

Ayolah, coba renungi adagium “Man arafa nafsahu, Faqad arafa Rabbahu”(barangsiapa kenal dirinya, maka ia kenal Tuhannya), selami samudra pemikiranmu siapa tau kamu temukan banyak mutiara.

Bahkan, yang luar biasa adalah kamu bisa meningkatkan kualitas keimanan. Yang selama ini kamu merasa turun. Akibat terlalu banyak duduk bersila dan memutar gelas dengan alasan solidaritas. Atau karena kamu yang terlalu dikendalikan hawa nafsu. 

Tingkatkan Ibadah

Nah, ini adalah waktu ideal bagi kamu untuk mendekatkan diri pada-Nya, coba kamu lihat Kitab suci yang sudah terlihat kusut dan berdebu. Bukalah dan baca olehmu. 

Jika selama ini cara Salatmu sangat 4G (cepat), dengan alasan dikejar deadline kini alasan itu tak ada lagi, kamu bisa lebih banyak berkeluh tentang hidupmu kepada Tuhan. Tentang kisah cintamu dan segala kerumitannya, dosen yang selalu memberi tugas tanpa penjelasan saat e-Learning, atau bercerita tentang rasa syukur dan pencapaianmu yang luar biasa selama ini.

Jadi mendatangi Tuhan itu jangan hanya saat sedih, dan terpuruk saja. Dia juga akan senang ketika kamu bercerita sukacita yang kamu alami selama ini.

Karena dengan di rumah tidak berpengaruh signifikan bagi kami yang merantau jauh dari kampung halaman, masih saja kami rindu masakan ibu, dan lelucon ayah yang selalu diulang sehingga terdengar tidak lucu tapi kami selalu tertawa karena takut sorot matanya.

Hilangkan Persepsi Negatif dari Kebijakan Pemerintah

Maka, mari hilangkah berbagai persepsi negatif. Dan biasakan dalam memandang sebuah kebijakan dengan pikiran yang lebih terbuka.

Mari kita sama-sama berdoa semoga musibah ini cepat berlalu dan kita dapat menjalankan aktifitas seperti semula.

Apa yang saya tulis ini merupakan buah pikir pribadi, maka kamu boleh saja menolak atau menyepakati, Saya hanya akan menutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan bagi Pemerintah, “Apakah lebih utama stabilitas ekonomi dibandingkan nyawa manusia?”

RS-03

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *