Kanada Buang Sampah ke Indonesia, Aktivis Muda Surati Perdana Menteri

Kanada Buang sampah ke Indonesia
Aeshnina Azzahra Aqilani/Tangkapan Layar

Internasional, SAKATA.ID: Aktivis muda asal Gresik, Jawa Timursurati Perdana Menteri Kanada karena telah buang sampah secara ilegal ke Indonesia.

Aktivis lingkungan yang sudha mendunia itu bernama Aeshnina Azzahra Aqilani, berusia 14 tahun.

Bacaan Lainnya

Ia mengaku, merasa khawatir atas masalah sampah plastik yang dikirim Kanada ke Indonesia, selama ini.

Rasa khawatir yang dirasakan Nina itu mendorongnya untuk mengirim surat kepada Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau.

Nina meminta supaya Kanada tidak membuang sampah plastik Kanada ke Indonesia. Menghentikan perilaku ilegal itu.

Informasi terkait pengiriman pesan kepada Perdana Menteri itu diketahui dalam sebuah film dokumenter yang dibuat aktivis lingkungan asing.

“Kepada Perdana Menteri (Kanada), kenapa mengirim sampah Anda ke negara saya?,” ujar Nina. Ia meminta supaya Kanada mengolah sendiri sampah itu di Kanada.

Selain itu, ia juga menceritakan masalah pembelian sampah kertas di Indonesia dari negara-negara maju.

Jad, kata dia, pabrik kertas di Indonesia membeli sampah kertas dari negara maju, tetapi negara maju.

Namun, lanjut dia, negara maju itu malah menyelundupkan sampah plastik mereka ke Indonesia.

Lantaran mereka tahu bahwa daur ulang plastik itu sangat sulit dan biayanya pun mahal.

“Makanya mereka selundupkan saja ke Indonesia,” ujar Nina. Seperti Kanada, buang sampah plastik mereka ke Indonesia.

Sebelumnya, gadis kelahiran Mei 2007 ini juga sempat membuat surat untuk Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokwi), terkait masalah impor plastik itu.

Dalam suratnya, Nina menyebutkan bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Eropa sering kali menyelundupkan sampah plastiknya ke sampah kertas yang diimpor Indonesia.

Ia mengungkapkan, Desa Bangun, Mojokerto adalah salah satu wilayah yang menjadi tempat pembuangan sampah plastik impor terbesar di Jawa Timur.

Para penduduk desa di sana memilah sampah plastik impo itu, kemudian mereka jual.

Nina mengungkapkan, pemilahan sampah plastik ini berdampak buruk pada sungai di desanya.

Diketahui bahwa sampah plastik harus dicuci bersih. Namun limbah hasil pencuciannya malah dialirkan ke sungai. Tentu saja ini menyebabkan sungai tercemar dan berdampak pada matinya ikan-ikan di sana.

Tidak hanya itu, limbah plastik pun berpotensi melepaskan mikroplastik. Ukurannya sangat kecil, kurang dari 5 mm. Bukan tidak mungkin, mikroplastik bisa saja masuk ke tubuh manusia.

Nina menegaskan, apabila ada mikroplastik di sungai, maka ikan-ikan akan terkontaminasi. Kemudian ikan tersebut dikonsumsi manusia. Dan bukan tidak mungkin, mikroplastik itu dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.