Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal II 2020 Terburuk Sejak 1999

Pertumbuhan Ekonomi
Net

SAKATA.ID : Pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Kuartal II tahun 2020 sudah dirilis Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI).

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, PDB Indonesia pada kuartal II tahun 2020 mengalami kontraksi hingga minus 5,32 persen.

Bacaan Lainnya

Angka minus 5,32 persen itu dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun 2019 (year on year).

Quarter to Quarter

Kemudian dilihat dari quarter to quarter (qtoq), pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2020 terkontraksi atau minus 4,19 persen.

Sementara, pada kuartal I 2020 secara qtoq Indonesia sudah tumbuh minus 2,41 persen.

Menurutnya, berdasarkan harga konstan pada kuartal II tahun 2020 sebesar Rp 2.589,6 triliun.

BACA JUGA : Nilai Tukar Rupiah Menguat, Vaksin Corona Ditemukan

Sehingga, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi minus 4,19 persen, apabila dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020.

Suhariyanto mengungkapkan, situasi ekonomi yang seperti ini bukan datang tiba-tiba.

Efek Pandemi

Keadaan seperti ini merupakan efek domino dari Pandemi Covid-19. Berawal dari masalah kesehatan, merembet ke masalah sosial – ekonomi.

Persoalan ini dinilai berat. Suharyanto menegaskan, ekonomi yang seperti ini sudah terlihat ketika triwulan kedua yang mengalami kontraksi.

BACA JUGA : Bisnis Perhotelan Beranjak Pulih di Jakarta

Angka pertumbuhan ekonomi kuartal II itu sebenarnya lebih tinggi dari yang diperkiraan Pemerintah dan Bank Indonesia.

Sebelumnya Pemerintah dan Bank Indonesia telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi minus 4,3 persen hingga minus 4,8 persen.

Terendah Sejak 1999

Bahkan Suhariyanto melihat, kontraksi pertumbuhan ekonomi di 2020 ini merupakan yang terendah sejak kuartal I tahun 1999.

Pada saat itu, ungkapnya, Indonesia mengalami kontrakai hingga minus 6,13 persen.

Kemudian, apabila dilihat dari 1998, ekonomi kuartal II 2020 ini juga yang terburuk sejak krisis 1998.

Krisis Finansial 2008

Waktu itu pertumbuhan Indonesia minus 16,5 persen, sepanjang tahun 1998.
Pada saat krisis finansial global di 2008, Indonesia masih bisa tumbuh 2,4 persen.

Bahkan, secara keseluruhan, di sepanjang tahun 2008 ekonomi Indonesia sanggup tumbuh 6,1 persen.

Keadaan ekonomi yang tumbuh minus ini tidak terlepas dari komponen lain yang juga mengalami kontraksi.

Konsumsi Rumah Tangga Anjlok

Misalnya dari konsumsi rumah tangga yang anjlok, tumbuh minus 5,51 persen.

Padahal konsumsi rumah tangga memiliki porsi 57,85 persen dari PDB.

Lalu, Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB), atau indikator investasi tumbuh minus 8,61 perse. PMTB menyumbang 30,61 persen dari PDB.

BACA JUGA : Investasi Emas Bukan Pilihan Tepat untuk Saat Ini

Selanjutnya ekspor, yang memegang porsi 15,69 persen PDB. Juga tumbuh minus, mencapau 11,66 persen.

Dan impor dengan porsi 15,52 persen dari PDB, tumbuh minus 16,96 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.